Microfishing Spot Awangan Kampung Halaman

Mudiklah sebelum mudik itu dilarang. Pandemi membuat ruang gerak manusia agak terbatas dan dibatasi. Termasuk keinginan untuk mengunjungi orang tua di kampung.  Acara pulang kampung saya laksanakan sejak dini. Sambang sama ingin shalat Terawih di masjid dusun. Pulang tak lupa membawa senjata pancing duo tegek lengkap beserta seluruh piranti cadangannya. 

Hasil Mandiin Ulat 2 ribuan 


Minggu pagi tertanggal 25 April 2021 setelah melaksanakan 'tugas negara' mengantarkan Emak ada keinginan untuk mancing. Sekalian survey spot mancing dan spot potensial untuk casting di musim kemarau mendatang. Berbekal ulat kandang seharga 2 ribuan yang saya beli dari toko pancing baru tepi kali di daerah Grogol misi mancing semakin mantap. 

Awangan Depan Tambak Bapak


Kata Cak Pur Peto, kalau hari libur di sepanjang sungai dekat tambak banyak orang memancing. Dari segala penjuru dengan beragam plat nomor motor. Walaupun di sungai desa sudah terpasang papan larangan mencari ikan tapi tidak menyurutkan niat dan nyali para pemancing yang mungkin sudah datang jauh-jauh dari luar kota. Menjelang pagi biasanya para pemancing lintas kota dengan motor berrengkek ini ngumpul di warung makan Pak Wujud -konco bal-balan liga kampung tarkam di masa remaja. 

Wader Pari Perdana 

Benar juga ada rombongan pemancing mulai memadati sungai dan tambak tebasan di sekitar desa. Bahkan terlihat ada angkutan umum jenis mikrolet Plat W yang dicarter khusus oleh para pemancing untuk berangkat bersama. Cara ini tentu lebih irit dan lebih aman. 
Simak Juga: 

Bisa tidur di angkot carteran sepanjang perjalanan menuju tambak. Agak siang asa angkot kuning melintas dan selepas rolasan ada pawai motor pemancing yang mulai meninggalkan tambak dan kembali ke tempat masing-masing. Yang kurang puas, lanjut memancing sendiri di sungai-sungai dekat tambak setempat. 

Big Wader Pari 


Awangan adalah saluran air atau sungai kecil yang menjadi pemisah antar tambak. Biasanya digunakan untuk pembuangan air menjelang panen tambak khususnya tambak udang. Air di awangan campur aduk. Dari air dari sungai sampai air bekas tambak yang penuh unsur hara dan kimia. Bagi pemancing, awangan adalah tempat ikan melarikan diri ketika terjadi banjir. Juga ikan kesasar yang ketika puncak musim kemarau lambat laun air akan habis dan ikan itu bisa mati mengering. Kecuali ikan betik dan belut yang bisa bertahan di kubangan lumpur walaupun dari atas terlihat seperti tanah yang telah kering. 

Betik 

Depan tambak milik bapak saya memilih spot dekat gubuk. Ada beberapa pemancing dari luar daerah yang terlihat asing. Saya sengaja berlagak seperti pemancing luar, untuk mengetes keramahtamahan para 'tamu' pemancing. Jika terbukti sopan tentu tidak akan ada cerita para petambak yang keberatan kalau sungai depan tambaknya dijadikan spot mancing. Kali ini saya tidak membawa sandal. Model cekeran atau ngodok kalau dalam bahasa Malang. Seperti biasanya sesampai di tambak saya melakukan perjalanan memutar untuk mengontrol setiap detail pematang dan isi tambak sekaligus napak tilas mengembalikan kenangan masa kecil sampai remaja di desa. 

Ikan Target 

Selesai aksi putar tambak saya langsung menuju spot. Menyiapkan piranti dan memandikan ulat. Seorang Bapak yang sebelumnya telah memancing. menghampiri saya dan curhat sambat kalau sejak pagi tidak ada gondolan ikan sama sekali. Bapak yang mirip Pak Mansyur legenda pemancing udang jembatan Nginden ini tanpa permisi langsung turun sungai dan mencuci sebuah kain bekas spanduk yang akan digunakan untuk menutup jok motor agar terlindung dari pancaran sinar matahari siang. Saya hanya senyum kecut, karena baru mencelupkan umpan air sudah diobok-obok. Bajigur. 

Kail 0.06 

Tak peduli sambatan Bapak tadi, saya langsung mancing dan terbukti beberapa kali strike walaupun tidak sekencang di sungai irigasi Malang yang lebih haup. Ikan wader pari kecil menjadi tangkapan pertama. Disusul dengan ikan wader pari ukuran besar. Lalu ada ikan betik dan tidak terhitung ikan yang moncel sudah beberapa kali luput. Bapak tadi datang lagi, obok-obok air lagi kali ini mengambil air wudhu. Saya biarkan hingga bertanya: "Sampean tiyang pundi Mas ? (anda orang mana Mas?). Saya jawab dengan mantap: "Kulo yogane sing nggada tambak niki" (saya anaknya yang punya tambak ini) sembari menunjuk tambak di belakang saya. Bapak tadi pergi ke tempat mancingnya dan pukul 14:30 WIB saya meninggalkan spot mancing. Dan melihat berderet pemancing luar memenuhi sungai awangan. 




Waduk Dekat Boletan 

Ekspedisi sore berlanjut dengan memancing di spot favorit untuk casting ikan gabus. Waduk selatan desa atau lebih dikenal sebagai Bengawan Wurung. Air masih tinggi dan rawa masih pekat dengan segala tanaman airnya. Jika memaksa untuk casting sekarang resiko tersangkut lebih tinggi dan biarlah ikan gabus tumbuh kembang dulu. Sengaja saya berjalan-jalan iseng sambil melihat banyak perubahan landscape dekat jalan raya. Dulu hanya pepohonan kini banyak pabrik berdiri. Industrialisasi telah memasuki desa. Semoga tidak ada masalah dengan lingkungan di kemudian hari. 
Wader Pari Waduk 

Ternyata spot waduk melimpah ikan wader pari. Hanya mengail kurang lebih 10 menit sebelum waktu berbuka tiba sensasi plungnyut sungguh sangat sensasional. Tahu gitu sejak pagi seharusnya mancing di waduk saja. Tepat pukul 17:00 WIB saya balik ke rumah dan bergalak seakan-akan tidak habis mancing biar tidak kena marah orang rumah. Untung bawa tegek ruas pendek bisa mendukung operasi senyap survey spot potensial. Hobi memancing memang membuat kita lebih bisa menikmati hidup. Santai yang berprotein, karena jika dapat banyak kita bisa membawa pulang untuk lauk di rumah. Salam Joran Melungker. 

Post a Comment

0 Comments