Mikrofishing vs Ngurek Belut di Spot Batas Malang Kota

Arjowinangun menjadi area favorit pemancing wader yang tidak ingin jauh-jauh meninggalkan kota Malang. Spot ini seperti tidak ada matinya. Walaupun ikannya semakin berkurang tapi ketika pulang ke Malang tidak lengkap jika tanpa membawa alat pancing dan mencoba memancing di aliran sungai yang terletak di batas kota ini. 

Wader dengan Klik 

Minggu 2 Mei 2021, mumpung bisa pulang dan ada kesempatan mancing saya berangkat sendiri. Tole tidak mau ikut dengan alasan karena ingin bermain sama adiknya. Semoga bukan karena trauma semenjak terjungkal di rerumputan tinggi tepi kali pada acara memancing berdua beberapa hari yang lalu. Sebelum mancing saya sempatkan untuk mencari biskuit klik di toko grosir. Ternyata kalah cepat, di toko pusat jajanan ini klik yang yang biasanya tertumpuk di pojokan kini tinggal beberapa. Ada pemancing lain yang datang lebih dulu menebasnya. Karena beli grosiran lebih murah daripada beli eceran. 


Arus Deras 

Simak juga: 



Siang itu saya mencoba ndoprok di timur jembatan. Dekat gapura selamat datang Kota Malang. Nampak sudah ada pemancing yang lebih dahulu angon nonol di spot bagian barat. Setelah beberapa kali celup racikan umpan biskuit belum ada tanda-tanda pergerakan dari ikan. Saya mencoba sisi lain hasilnya sama. Arus yang lebih deras dan tutupan tanaman air diduga membuat ikan ogah makan umpan biskuit kuning merah andalan pemancing ini. Mencoba di sisi sebelah barat bergabung dengan pemancing bersepeda motor yang membawa dua umpan. Hasilnya juga sama: boncos. Padahal dulu kala ketika memancing di sini, tempat tembok barat sedikit hasilnya banyak dari wader sampai ikan uceng. 

Pemancing tanpa Stik: Pencari Belut 

Akhirnya saya memutukan untuk pindah di spot timur. Dekat saluran air yang ramai oleh para penggemar Gradiator of Tangkil. Mungkin karena hari minggu ada banyak pemancing yang turut meramaikan spot. Ada dua orang pemancing yang berada di barat saluran air. Kelihatannya boncos mereka senang saat saya donasikan satu ekor wader hasil tangkapan perdana saya di dekat tikungan air yang ada bambu membentang. Keduanya pindah dan saya lalu menempati spot mereka. Di spot ini ikan banyak yang tergoda. Tapi harus siap boros dan kecewa. Ada sampah kain dan kayu yang siap membuat kita kehilangan kail kecil kapan saja. Kecewa karena ikan yang mendominasi adalah ikan sakamut berbagai ukuran dan ikan betik. Wadernya seolah tergusur dan termarginalkan. Tidak apalah yang penting sensasi tul-tul slupnya dapat. 

Ngurek mode on (karya pibadi)

Di sebelah utara sungai nampak serombongan orang dengan membawa ember kecil dan tertunduk khidmat di tepi pematang. Mereka adalah para mencari belut. Pemancing tanpa stik hanya berbekal tali dan pancing yang telah termodifikasi dengan umpan cacing. Mancing model ini banyak di daerah dataran tinggi atau yang lebih dikenal dengan istilah ngurek. Metodenya seperti gambar di atas. Kita mendekati lubang di pematang atau tepi sungai yang diduga rumah belut. Arahkan umpan dan siap lomba tarik tambang dengan belut. Ini cocok untuk yang ingin berlatih memancing ikan sidat. Apapun tekniknya yang penting tidak merusak alam dengan setrum atau obat potas (bahkan mungkin menebar sianida dalam sungai). Salam Joran Melungker. 

Post a Comment

0 Comments