"Nyimak Spot....nyimak umpan....saweran piro?"
Serangkaian kata tanya yang biasa kita jumpai pada komentar di beberapa grup mancing. Tidak salah juga karena tidak semua pemancing ada dalam sebuah komunitas. Mancing adalah aktivitas yang bagi sebagian orang menjadi sekadar hobi, ada pula yang menjadi jalan hidup. Mancing adalah jalan ninjaku.
![]() |
Bajul Kalimir |
Berdasarkan pengamatan saya ada dua golongan pemancing: soliter dan berkelompok. Pemancing yang pertama termasuk lone wolf. Berani berangkat mbolang sendiri. Menyusuri rimbunan semak, rela bergelantungan di pohon bakau, berkulit badak tahan dengan nyamuk muara. Pemancing golongan kedua tidak lengkap jika tidak berangkat memancing ramai-ramai. Ngetrip bareng dan gak ada elu gak ramai itu prinsipnya. Pemancing golongan ini lebih mempunyai solidaritas tinggi dan cenderung harus bisa menahan diri dalam kompetisi internal dalam kelompoknya. Misalnya berangkat berempat, tiga temannya dapat ikan terus sementara dia boncos. Itu semacam terluka tanpa berdarah.
Dalam komunitas memancing ada pula jenis anggota yang sebenarnya soliter dan lebih banyak menjadi pengamat. Sesekali tampil. Dia seperti agen rahasia alam film laga. Keberadaannya sulit dipantau dalam medsos. Punya spot hasil liaran yang beragam hasil kerja kerasnya blusukan keluar masuk spot. Tujuan komunitas mancing adalah sebagai wadah komunikasi, ekspresi dan berbagi antar sesama anggota. Tidak hanya itu mereka kerap berbagi kepada sesama.
Baca Juga: Spot Nyampah Ketika Mancing
Bagi doa, bagi kabar sampai bagi takjil. Sayangnya untuk tahun ini ditengah keprihatinan pandemi Covid-19 kegiatan bagi-bagi takjil dan bukber ditunda pada Ramadan tahun depan. Bagi informasi tentang teknik memancing dan spot juga kerap dilakukan oleh anggota dalam komunitas. Ada pula yang memiilih menyamarkan TKP penyelamatan ikan tenggelamnya dengan menyebut Spot R. Spot Rahasia. Ada apa dengan spot R?
![]() |
Keroyok Semut |
Bisa jadi ada pertimbangan khusus dari pengunggah hasil memancing ikan di media sosial dengan menyebut sebagai spot R. Biar dikatakan pelit informasi nyengit ilmu. Merahasikan spot memancing adalah pilihan dan bukan tanpa sebab. Menjaga privasi spot andalan. Spot liaran lebih menarik jika didatangi sedikit pemancing. Lingkungan sekitaran memancing lebih terjaga kebersihannya. Merahasiakan spot di medsos mancing adalah hak dan menghargai bagaimana perjuangan untuk mencari dan menemukan spot potensi ikan. Khususnya para penggemar mancing liar. Apalagi khusus pemancing tambak dengan sistem tebasan atau harian. Kadang kedatangan banyak orang di satu sisi menguntungkan pemilik maupun agen penyalur spot -agen jare..koyo TKW ae- tapi karena tidak semua pemancing mempunyai kesadaran diri dan lingkungan yang baik. Efeknya bisa buruk. Pematang tambak yang rusak, tanaman cabe melon timur semangka serai yang terinjak-injak hingga sampah melimpah di sekitar tambak.
Tidak semua pemancing mau memungut dan membawa pulang sampahnya. Ini mirip banyak gunung yang mengalami masalah sampah. Pasca booming film sekelompok anak muda yang penuh persahabatan mendaki gunung. Hobi menjadi kembali naik gunung. Seketika berbondong-bondong anak muda mulai tergerak menggendong tas besar. Tidak sedikit yang hanya ikut-ikutan. Sama seperti ketika sebuah spot mancing yang potensial diumbar dengan bebas di media sosial bisa jadi setelah itu berbondong-bondong datang pemancing wajah baru yang memadati spot tersebut. Jika masih bisa menjaga kebersihan dan keramahtamahan khas adat timur tidak masalah. Tapi kalau mulai lapar dan dia resek kalau lapat tentu sangat tidak diharapkan. Jadilah pemancing yang cerdas. Ketika melihat kawan berbagi gambar ikan di spot tertentu. Amati dengan jelas benda dan latar di sekitarnya. Renungkan dan bongkar memori jika kebetulan kita tahu itu dimana alangkah baiknya menghubungi kawan mancing untuk berangkat mbolang bersama. Jadi masih mau ramai perihal spot R?[]
0 Comments